Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, pada hari Minggu 12 Oktober dengan menggunakan pesawat Etihad, sekitar pukul 2 siang. Kami transit selama 5 jam di Bandara Abu Dhabi, Uni Emirat. Wah… ketika akan mendarat di Abu Dhabi terlihat pemandangan kota Abu Dhabi yang indah dengan lampu-lampu dan jalan yang rapi dan terkonsep dengan baik.
Menunggu di Abu Dhabi untuk perjalanan selanjutnya ke Yordania, saya gunakan untuk melihat-lihat. Ada banyak toko-toko dan cafĂ© tapi pastinya harga-harganya lumayan mahal. Untunglah ada yang murah bahkan gratis… ya free internet. Ada sekitar 10 komputer yang memberikan fasilitas internet gratis tapi dibatasi hanya sekitar 15 menit. Tapi ya lumayan juga, kalau waktunya habis ya mulai lagi dari awal.
Akhirnya ketika waktu menujukkan 1 dini hari waktu setempat kami diajak ke ruang tunggu di terminal lainnya dengan menggunakan bus. Seperti biasa ada pemeriksaan paspor, barang-barang, dsb.
Berangkat dengan menggunakan Etihad yang ukurannya jauh lebih kecil, kami tiba di bandara Queen Alia, Jordania menempuh perjalanan 3 jam.
Setelah pemeriksaan di bagian imigrasi kami dijemput oleh bus wisata lokal dan diantar menuju Hotel Dana Plaza, dan sarapan di situ. Tanpa masuk kamar terlebih dahulu kami langsung berangkat ke Petra. Suatu daerah perbukitan batu-batu besar dimana orang-orang dulu tinggal di gua-gua di batu tersebut. Petra dikenal juga dengan sebutan “The Red Rose City”. Setelah dari Petra kami mampir di Wadi Musa (mata air Musa), suatu tempat mata air yang dipercaya ditemukan oleh Nabi Musa. Sore hari kami kembali ke Hotel dan makan malam, serta tidur.
Tampilkan postingan dengan label Holyland series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Holyland series. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 November 2008
Selasa, 21 Oktober 2008
HOLYLAND (III): MENUJU HOLYLAND (I)
Dua (2) hari menjelang keberangkatan ke Israel, saya mengambil cuti. Dengan tujuan untuk persiapan. Tetapi Tuhan ternyata masih mempercayakan pelayanan. Pada hari Minggu siang adalah jadwal saya berangkat, tapi Sabtu sore hingga malam ada dua tempat yang cukup jauh yang harus dilayani. Ada kawan yang berkata: “lho kamu kan cuti, masa cuti masih kerja?” Ada juga yang berkata: “Perjalanan ke Israel itu jauh, kamu perlu istirahat, nanti malah kecapean terus kamu sakit nanti! Tapi saya lebih percaya kepada Tuhan. Saya berdoa: “Tuhan, saya percaya Engkau yang akan menguatkan, menopang, memberi kesehatan walaupun malam hari menjelang keberangkatan saya masih melayani”. Saya yakin Tuhan masih mempercayakan pelayanan pada masa cuti dan menjelang keberangkatan karena ada rencana-Nya. Apa itu rencana-Nya? Hanya Tuhan-lah yang tahu. Malam hari sekitar pukul 10 malam, semua tugas selesai, dengan mengendarai sepeda motor inventaris, saya tersenyum dan berdoa: Terima kasih Tuhan, semua tugas sudah dilaksanakan sekarang tinggal persiapan akhir menjelang keberangkatan. Sementara bayangan tanah suci terus mengiringi seolah sudah menanti.
HOLYLAND (II): TANTANGAN MENJELANG KEBERANGKATAN
Panggilan Tuhan ke tanah suci (Holyland), negeri Israel juga merupakan kado ulang tahun ke-28 saya yang jatuh pada tanggal 23 September. Dan luar biasa menurut rencana saya akan berangkat tanggal tersebut.
Namun rancangan manusia kadang berbeda dengan rancangan Tuhan, menjelang keberangkatan ada beberapa kendala seperti pembuatan KTP (persis bulan September masa berlakunya habis sehingga saya perpanjang) sehingga berpengaruh terhadap pembuatan paspor. Saya cukup panik, karena tanpa paspor tidak mungkin saya bisa berangkat ke luar negeri. Saya akhirnya hanya bisa pasrah, dan berdoa pada Tuhan: Ya Tuhan jikalau Engkau yang mengundang hamba-Mu ini masuk ke tanah Kudus-Mu, maka Engkau pula yang akan memperlengkapi semuanya. Amin. Di tengah kegalauan dan kepasrahan pada Tuhan, ada jawaban yang diberikan-Nya, bahwa saya tidak jadi berangkat tanggal 23 September 2008. Apa? Saya tidak jadi berangkat? Tunggu dulu Tuhan belum selesai berbicara, saya dirancangkan-Nya berangkat tanggal 12 Oktober 2008.
Ternyata… Tuhan punya maksud yang jauh lebih indah dari apa yang saya bayangkan. Saya berangkat bersama dengan Full Gospel Bussines, yakni sebuah perkumpulan pengusaha-pengusaha yang takut akan Tuhan. Mereka adalah pengusaha yang juga melayani Tuhan. Namun selain itu –dan ini yang luar biasa- pada waktu tersebut adalah minggu-minggu perayaan Pondok Daun dan pada tanggal 15 Oktober adalah puncak perayaan Pondok Daun yakni Jerusalem March. Dimana semua bangsa datang ke Israel untuk sujud menyembah Tuhan dan merayakan hari raya pondok daun (Zakharia 14:16)
Namun rancangan manusia kadang berbeda dengan rancangan Tuhan, menjelang keberangkatan ada beberapa kendala seperti pembuatan KTP (persis bulan September masa berlakunya habis sehingga saya perpanjang) sehingga berpengaruh terhadap pembuatan paspor. Saya cukup panik, karena tanpa paspor tidak mungkin saya bisa berangkat ke luar negeri. Saya akhirnya hanya bisa pasrah, dan berdoa pada Tuhan: Ya Tuhan jikalau Engkau yang mengundang hamba-Mu ini masuk ke tanah Kudus-Mu, maka Engkau pula yang akan memperlengkapi semuanya. Amin. Di tengah kegalauan dan kepasrahan pada Tuhan, ada jawaban yang diberikan-Nya, bahwa saya tidak jadi berangkat tanggal 23 September 2008. Apa? Saya tidak jadi berangkat? Tunggu dulu Tuhan belum selesai berbicara, saya dirancangkan-Nya berangkat tanggal 12 Oktober 2008.
Ternyata… Tuhan punya maksud yang jauh lebih indah dari apa yang saya bayangkan. Saya berangkat bersama dengan Full Gospel Bussines, yakni sebuah perkumpulan pengusaha-pengusaha yang takut akan Tuhan. Mereka adalah pengusaha yang juga melayani Tuhan. Namun selain itu –dan ini yang luar biasa- pada waktu tersebut adalah minggu-minggu perayaan Pondok Daun dan pada tanggal 15 Oktober adalah puncak perayaan Pondok Daun yakni Jerusalem March. Dimana semua bangsa datang ke Israel untuk sujud menyembah Tuhan dan merayakan hari raya pondok daun (Zakharia 14:16)
HOLYLAND (I): SEBUAH IMPIAN ATAU KENYATAAN?
Setiap orang percaya (baca: Kristen) tentu memiliki kerinduan untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci (Holyland) seperti Yerusalem, Betlehem, Kapernaum atau Nazaret di negeri Israel. Saya pun tentu memiliki kerinduan seperti itu tapi tentu untuk pergi ke sana tidaklah mudah, terutama menyangkut soal biaya dan lain sebagainya.
Namun, Tuhan itu luar biasa! Bagi-Nya tiada yang mustahil. Suatu hari setelah beberapa hari sebelumnya melakukan pelayanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, ada telpon masuk dari sesorang yang dipakai dan diberkati Tuhan, bahwa saya mau tidak untuk berangkat ke Holyland. Wah… seperti mimpi saya dengan tanpa sadar mulut saya berkata: ya. Lalu saya diminta untuk bersiap-siap seperti pembuatan paspor dan lainnya.
Tanpa sadar saya menitikan air mata antara sukacita, terharu dan bersyukur pada Tuhan. Lalu saya melihat hari-hari yang sudah saya jalani terutama dalam pelayanan yang dilakukan. Ternyata Tuhan itu tidak mau berhutang. Sungguh Tuhan itu baik, bagi yang tulus melayani-Nya, Tuhan tidak akan pernah melupakan. Kesempatan ke Holyland adalah sebuah anugerah dari Tuhan.
Namun, Tuhan itu luar biasa! Bagi-Nya tiada yang mustahil. Suatu hari setelah beberapa hari sebelumnya melakukan pelayanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, ada telpon masuk dari sesorang yang dipakai dan diberkati Tuhan, bahwa saya mau tidak untuk berangkat ke Holyland. Wah… seperti mimpi saya dengan tanpa sadar mulut saya berkata: ya. Lalu saya diminta untuk bersiap-siap seperti pembuatan paspor dan lainnya.
Tanpa sadar saya menitikan air mata antara sukacita, terharu dan bersyukur pada Tuhan. Lalu saya melihat hari-hari yang sudah saya jalani terutama dalam pelayanan yang dilakukan. Ternyata Tuhan itu tidak mau berhutang. Sungguh Tuhan itu baik, bagi yang tulus melayani-Nya, Tuhan tidak akan pernah melupakan. Kesempatan ke Holyland adalah sebuah anugerah dari Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)
