Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, pada hari Minggu 12 Oktober dengan menggunakan pesawat Etihad, sekitar pukul 2 siang. Kami transit selama 5 jam di Bandara Abu Dhabi, Uni Emirat. Wah… ketika akan mendarat di Abu Dhabi terlihat pemandangan kota Abu Dhabi yang indah dengan lampu-lampu dan jalan yang rapi dan terkonsep dengan baik.
Menunggu di Abu Dhabi untuk perjalanan selanjutnya ke Yordania, saya gunakan untuk melihat-lihat. Ada banyak toko-toko dan cafĂ© tapi pastinya harga-harganya lumayan mahal. Untunglah ada yang murah bahkan gratis… ya free internet. Ada sekitar 10 komputer yang memberikan fasilitas internet gratis tapi dibatasi hanya sekitar 15 menit. Tapi ya lumayan juga, kalau waktunya habis ya mulai lagi dari awal.
Akhirnya ketika waktu menujukkan 1 dini hari waktu setempat kami diajak ke ruang tunggu di terminal lainnya dengan menggunakan bus. Seperti biasa ada pemeriksaan paspor, barang-barang, dsb.
Berangkat dengan menggunakan Etihad yang ukurannya jauh lebih kecil, kami tiba di bandara Queen Alia, Jordania menempuh perjalanan 3 jam.
Setelah pemeriksaan di bagian imigrasi kami dijemput oleh bus wisata lokal dan diantar menuju Hotel Dana Plaza, dan sarapan di situ. Tanpa masuk kamar terlebih dahulu kami langsung berangkat ke Petra. Suatu daerah perbukitan batu-batu besar dimana orang-orang dulu tinggal di gua-gua di batu tersebut. Petra dikenal juga dengan sebutan “The Red Rose City”. Setelah dari Petra kami mampir di Wadi Musa (mata air Musa), suatu tempat mata air yang dipercaya ditemukan oleh Nabi Musa. Sore hari kami kembali ke Hotel dan makan malam, serta tidur.
Senin, 03 November 2008
Minggu, 02 November 2008
PELAYANAN KE GKP CIKEMBAR
Dalam rangka pembukaan Pekan Keluarga GKP memperingati HUT Ke-74 GKP, maka dilakukan pertukaran PF se sinode GKP dan saya mendapat tugas melayani GKP Cikembar, Sukabumi.
Hari Sabtu kemarin sekitar Pkl. 14.00 saya pergi ke Cikembar, dimulai dengan naik bus Kramat Jati jurusan Bekasi-Bogor. Buset deh... lama bgt jalannya biasa cari muatan, jalan santai kayak keong, heheheheh. Sampai di Bogor hampir jam 5 sore, trus lanjut naik bus 3/4 Putera Bahari jurusan Pelabuhan ratu. Memasuki Ciawi mulai turun hujan, dan kemacetan mulai terjadi. Udah gitu bus mengangkut penumpang diluar batas, berdesak-desak, panas, sempit, pengap, bocor pula, asap rokok dimana-mana. Oh..God.. semoga perjalanan cepat sampai. Ternyata perjalanan masih panjang. Hampir pukul 9 malam saya tiba di Cikembar. Wah...sampai juga dengan selamat, sementara gerimis masih melanda, untung saya bawa sweater.
Di gereja ada MJ yang sudah menunggu, dengan penuh keramahan saya diajak ngobrol, minum teh panas, dan makan di lapo depan gereja (sayangnya B2 panggangnya habis...)makan Sop dan Saksang... Karena saya dah letih, abis makan diantar ke rumah MJ yang lain, yang tinggal dekat gereja. Seorang Ibu (MJ Cikembar) menyambut dan kita ngobrol bentar, saya mandi trus ngobrol-ngobrol lagi.
Karena udah ngantuk banget maka jam 12 malam saya pergi tidur (iya lah masa pergi meronda) dan bangun hampir jam 8 pagi (Upsss... padahal jam 9 Kebaktian lho, sebenarnya alarm jam 5.30 berbunyi tapi ya memanjakan diri deh... Mudah-mudah tuan rumahnya ngerti)
Ketika bangun saya disapa oleh suami dari Ibu MJ tsb, dan ternyata... masih ada hubungan saudara dengan saya. Jadi Om ini (saya manggilnya Om) kenal bgt dengan ayah saya, Om-Om saya di Ambon, dan memang satu kampung di Ameth, Nusa Laut)
Wah...wah... saya punya saudara neh di Cikembar.
Singkat cerita jam 9 pagi saya melayani di Cikembar. Semuanya berjalan lancar. Jemaat antusias mengikuti ibadah khususnya khotbah. Ada yang khusus dan spesial ketika saya membawakan renungan (maaf tidak bisa saya jelaskan)
Selesai melayani saya ngobrol-ngobrol dengan Majelis lalu pulang ke rumah Om dan tante saya trus sekitar jam 2 siang kembali ke Bekasi. Perjalanan yang melelahkan dimulai 3 kali berganti kendaraan disertai hujan dan macet sampai basah-basahan. Akhirnya sekitar Pkl. 7-an malam tiba di Bekasi. Diiringi gerimis yang membasahi kota Bekasi.
Kadang saya berpikir enaknya kalau punya kendaraan sendiri, mungkin gak akan kehujanan, lebih cepat sampai, lebih nyaman. Tapi saya sadar, apapun kondisi yang ada skrg tetap harus disyukuri. Perjalanan pp dengan kendaraan umum, ternyata banyak memberi saya kesempatan untuk berefleksi, melihat kehidupan masyarakat dengan segala keberadaannya. Saya belajar dari sini tentang warna-warna kehidupan. Kesederhanaan, kesehajaan, kepolosan dan sebagainya.
Terima kasih Tuhan, atas penyertaan-Mu dalam perjalanan ke Cikembar. Ada banyak hal yang saya pelajari. Terutama saya diperkenalkan dengan Saudara (Om dan Tante) di Cikembar.Tuhan kiranya yang memberkati GKP Cikembar. Amin.
Hari Sabtu kemarin sekitar Pkl. 14.00 saya pergi ke Cikembar, dimulai dengan naik bus Kramat Jati jurusan Bekasi-Bogor. Buset deh... lama bgt jalannya biasa cari muatan, jalan santai kayak keong, heheheheh. Sampai di Bogor hampir jam 5 sore, trus lanjut naik bus 3/4 Putera Bahari jurusan Pelabuhan ratu. Memasuki Ciawi mulai turun hujan, dan kemacetan mulai terjadi. Udah gitu bus mengangkut penumpang diluar batas, berdesak-desak, panas, sempit, pengap, bocor pula, asap rokok dimana-mana. Oh..God.. semoga perjalanan cepat sampai. Ternyata perjalanan masih panjang. Hampir pukul 9 malam saya tiba di Cikembar. Wah...sampai juga dengan selamat, sementara gerimis masih melanda, untung saya bawa sweater.
Di gereja ada MJ yang sudah menunggu, dengan penuh keramahan saya diajak ngobrol, minum teh panas, dan makan di lapo depan gereja (sayangnya B2 panggangnya habis...)makan Sop dan Saksang... Karena saya dah letih, abis makan diantar ke rumah MJ yang lain, yang tinggal dekat gereja. Seorang Ibu (MJ Cikembar) menyambut dan kita ngobrol bentar, saya mandi trus ngobrol-ngobrol lagi.
Karena udah ngantuk banget maka jam 12 malam saya pergi tidur (iya lah masa pergi meronda) dan bangun hampir jam 8 pagi (Upsss... padahal jam 9 Kebaktian lho, sebenarnya alarm jam 5.30 berbunyi tapi ya memanjakan diri deh... Mudah-mudah tuan rumahnya ngerti)
Ketika bangun saya disapa oleh suami dari Ibu MJ tsb, dan ternyata... masih ada hubungan saudara dengan saya. Jadi Om ini (saya manggilnya Om) kenal bgt dengan ayah saya, Om-Om saya di Ambon, dan memang satu kampung di Ameth, Nusa Laut)
Wah...wah... saya punya saudara neh di Cikembar.
Singkat cerita jam 9 pagi saya melayani di Cikembar. Semuanya berjalan lancar. Jemaat antusias mengikuti ibadah khususnya khotbah. Ada yang khusus dan spesial ketika saya membawakan renungan (maaf tidak bisa saya jelaskan)
Selesai melayani saya ngobrol-ngobrol dengan Majelis lalu pulang ke rumah Om dan tante saya trus sekitar jam 2 siang kembali ke Bekasi. Perjalanan yang melelahkan dimulai 3 kali berganti kendaraan disertai hujan dan macet sampai basah-basahan. Akhirnya sekitar Pkl. 7-an malam tiba di Bekasi. Diiringi gerimis yang membasahi kota Bekasi.
Kadang saya berpikir enaknya kalau punya kendaraan sendiri, mungkin gak akan kehujanan, lebih cepat sampai, lebih nyaman. Tapi saya sadar, apapun kondisi yang ada skrg tetap harus disyukuri. Perjalanan pp dengan kendaraan umum, ternyata banyak memberi saya kesempatan untuk berefleksi, melihat kehidupan masyarakat dengan segala keberadaannya. Saya belajar dari sini tentang warna-warna kehidupan. Kesederhanaan, kesehajaan, kepolosan dan sebagainya.
Terima kasih Tuhan, atas penyertaan-Mu dalam perjalanan ke Cikembar. Ada banyak hal yang saya pelajari. Terutama saya diperkenalkan dengan Saudara (Om dan Tante) di Cikembar.Tuhan kiranya yang memberkati GKP Cikembar. Amin.
Sabtu, 01 November 2008
DOA PAGI GKP BEKASI
Salah satu program kegiatan pelayanan terbaru di GKP Bekasi adalah Doa Pagi yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, pkl. 05.00 wib. Doa Pagi perdana dilaksanakan pagi ini, tanggal 1 November 2008.
Tadi malam saya sulit untuk tidur, padahal sore harinya cukup sibuk mempersiapkan sarana dan prasarana doa pagi. Saya khawatir sedikit anggota jemaat atau malah tidak ada yang hadir, saya pun khawatir kemasan dan esensi Doa Pagi itu tidak menyentuh yang hadir. Tapi.. saya berpikir kenapa harus khawatir, pasti Tuhan akan menolong saya. Akhirnya saya tertidur sekitar Pkl. 01 dini hari.
Jam 3 subuh saya terbangun karena sakit perut. Aduh.. ini pasti gara-gara kemarin makan otak-otak pedes dengan ice cream durian. Masih ngantuk, tapi terpaksa harus ke toilet.
Seusai “menguras” lihat jam masih ada waktu tidur sebentar, sementara alarm Pkl. 03.30 sudah dipasang dari semalam. Alarm berbunyi, mata semakin berat. Ada bisikan, udah tidur aja lagi, toh jam 5 masih lama. Tapi ada bisikan lagi, memang Doa Pagi jam 5 tapi kamu kan harus persiapan tempat, menyalakan lilin-lilin, dsb.
Rasa malas dikalahkan oleh panggilan tugas. Bangun, mandi terus minum teh hijau da berangkat. Uhhhh dingin menerpa raga dalam perjalanan dengan motor. Hingga tiba di gereja sekitar Pkl. 04.20 wib.
Untungnya koster sudah ada dan seorang anggota jemaat dikirimkan Tuhan untuk membantu persiapan, pasang meja, kain, lilin, alkitab, bunga hidup. Sip, semua beres. Satu per satu anggota Jemaat mulai berdatangan.
Teng, jam 5 lonceng dibunyikan dan Doa Pagi dimulai. Thanks God, yang hadir sebanyak 18 orang. Padahal saya berpikir yang hadir paling banyak 5 orang. Memang jauh dari jumlah anggota 600-an KK, tapi gak apa-apa namanya juga perdana. Saya yakin makin lama makin banyak yang akan hadir dalam Doa Pagi.
Sekitar 30 menit berlalu, Doa Pagi selesai. Mmmmm saatnya minum kopi cream dengan sepotong kue yang memang sudah disiapkan. Sambil ngobrol dengan beberapa orang yang hadir, menyatakan antusias nya atas Doa Pagi ini.
Terima kasih Tuhan untuk penyertaan-Mu, kiranya melalui Doa Pagi ini, ada banyak jiwa yang semakin dekat kepada-Mu. Amin.
Tadi malam saya sulit untuk tidur, padahal sore harinya cukup sibuk mempersiapkan sarana dan prasarana doa pagi. Saya khawatir sedikit anggota jemaat atau malah tidak ada yang hadir, saya pun khawatir kemasan dan esensi Doa Pagi itu tidak menyentuh yang hadir. Tapi.. saya berpikir kenapa harus khawatir, pasti Tuhan akan menolong saya. Akhirnya saya tertidur sekitar Pkl. 01 dini hari.
Jam 3 subuh saya terbangun karena sakit perut. Aduh.. ini pasti gara-gara kemarin makan otak-otak pedes dengan ice cream durian. Masih ngantuk, tapi terpaksa harus ke toilet.
Seusai “menguras” lihat jam masih ada waktu tidur sebentar, sementara alarm Pkl. 03.30 sudah dipasang dari semalam. Alarm berbunyi, mata semakin berat. Ada bisikan, udah tidur aja lagi, toh jam 5 masih lama. Tapi ada bisikan lagi, memang Doa Pagi jam 5 tapi kamu kan harus persiapan tempat, menyalakan lilin-lilin, dsb.
Rasa malas dikalahkan oleh panggilan tugas. Bangun, mandi terus minum teh hijau da berangkat. Uhhhh dingin menerpa raga dalam perjalanan dengan motor. Hingga tiba di gereja sekitar Pkl. 04.20 wib.
Untungnya koster sudah ada dan seorang anggota jemaat dikirimkan Tuhan untuk membantu persiapan, pasang meja, kain, lilin, alkitab, bunga hidup. Sip, semua beres. Satu per satu anggota Jemaat mulai berdatangan.
Teng, jam 5 lonceng dibunyikan dan Doa Pagi dimulai. Thanks God, yang hadir sebanyak 18 orang. Padahal saya berpikir yang hadir paling banyak 5 orang. Memang jauh dari jumlah anggota 600-an KK, tapi gak apa-apa namanya juga perdana. Saya yakin makin lama makin banyak yang akan hadir dalam Doa Pagi.
Sekitar 30 menit berlalu, Doa Pagi selesai. Mmmmm saatnya minum kopi cream dengan sepotong kue yang memang sudah disiapkan. Sambil ngobrol dengan beberapa orang yang hadir, menyatakan antusias nya atas Doa Pagi ini.
Terima kasih Tuhan untuk penyertaan-Mu, kiranya melalui Doa Pagi ini, ada banyak jiwa yang semakin dekat kepada-Mu. Amin.
Selasa, 21 Oktober 2008
HOLYLAND (III): MENUJU HOLYLAND (I)
Dua (2) hari menjelang keberangkatan ke Israel, saya mengambil cuti. Dengan tujuan untuk persiapan. Tetapi Tuhan ternyata masih mempercayakan pelayanan. Pada hari Minggu siang adalah jadwal saya berangkat, tapi Sabtu sore hingga malam ada dua tempat yang cukup jauh yang harus dilayani. Ada kawan yang berkata: “lho kamu kan cuti, masa cuti masih kerja?” Ada juga yang berkata: “Perjalanan ke Israel itu jauh, kamu perlu istirahat, nanti malah kecapean terus kamu sakit nanti! Tapi saya lebih percaya kepada Tuhan. Saya berdoa: “Tuhan, saya percaya Engkau yang akan menguatkan, menopang, memberi kesehatan walaupun malam hari menjelang keberangkatan saya masih melayani”. Saya yakin Tuhan masih mempercayakan pelayanan pada masa cuti dan menjelang keberangkatan karena ada rencana-Nya. Apa itu rencana-Nya? Hanya Tuhan-lah yang tahu. Malam hari sekitar pukul 10 malam, semua tugas selesai, dengan mengendarai sepeda motor inventaris, saya tersenyum dan berdoa: Terima kasih Tuhan, semua tugas sudah dilaksanakan sekarang tinggal persiapan akhir menjelang keberangkatan. Sementara bayangan tanah suci terus mengiringi seolah sudah menanti.
HOLYLAND (II): TANTANGAN MENJELANG KEBERANGKATAN
Panggilan Tuhan ke tanah suci (Holyland), negeri Israel juga merupakan kado ulang tahun ke-28 saya yang jatuh pada tanggal 23 September. Dan luar biasa menurut rencana saya akan berangkat tanggal tersebut.
Namun rancangan manusia kadang berbeda dengan rancangan Tuhan, menjelang keberangkatan ada beberapa kendala seperti pembuatan KTP (persis bulan September masa berlakunya habis sehingga saya perpanjang) sehingga berpengaruh terhadap pembuatan paspor. Saya cukup panik, karena tanpa paspor tidak mungkin saya bisa berangkat ke luar negeri. Saya akhirnya hanya bisa pasrah, dan berdoa pada Tuhan: Ya Tuhan jikalau Engkau yang mengundang hamba-Mu ini masuk ke tanah Kudus-Mu, maka Engkau pula yang akan memperlengkapi semuanya. Amin. Di tengah kegalauan dan kepasrahan pada Tuhan, ada jawaban yang diberikan-Nya, bahwa saya tidak jadi berangkat tanggal 23 September 2008. Apa? Saya tidak jadi berangkat? Tunggu dulu Tuhan belum selesai berbicara, saya dirancangkan-Nya berangkat tanggal 12 Oktober 2008.
Ternyata… Tuhan punya maksud yang jauh lebih indah dari apa yang saya bayangkan. Saya berangkat bersama dengan Full Gospel Bussines, yakni sebuah perkumpulan pengusaha-pengusaha yang takut akan Tuhan. Mereka adalah pengusaha yang juga melayani Tuhan. Namun selain itu –dan ini yang luar biasa- pada waktu tersebut adalah minggu-minggu perayaan Pondok Daun dan pada tanggal 15 Oktober adalah puncak perayaan Pondok Daun yakni Jerusalem March. Dimana semua bangsa datang ke Israel untuk sujud menyembah Tuhan dan merayakan hari raya pondok daun (Zakharia 14:16)
Namun rancangan manusia kadang berbeda dengan rancangan Tuhan, menjelang keberangkatan ada beberapa kendala seperti pembuatan KTP (persis bulan September masa berlakunya habis sehingga saya perpanjang) sehingga berpengaruh terhadap pembuatan paspor. Saya cukup panik, karena tanpa paspor tidak mungkin saya bisa berangkat ke luar negeri. Saya akhirnya hanya bisa pasrah, dan berdoa pada Tuhan: Ya Tuhan jikalau Engkau yang mengundang hamba-Mu ini masuk ke tanah Kudus-Mu, maka Engkau pula yang akan memperlengkapi semuanya. Amin. Di tengah kegalauan dan kepasrahan pada Tuhan, ada jawaban yang diberikan-Nya, bahwa saya tidak jadi berangkat tanggal 23 September 2008. Apa? Saya tidak jadi berangkat? Tunggu dulu Tuhan belum selesai berbicara, saya dirancangkan-Nya berangkat tanggal 12 Oktober 2008.
Ternyata… Tuhan punya maksud yang jauh lebih indah dari apa yang saya bayangkan. Saya berangkat bersama dengan Full Gospel Bussines, yakni sebuah perkumpulan pengusaha-pengusaha yang takut akan Tuhan. Mereka adalah pengusaha yang juga melayani Tuhan. Namun selain itu –dan ini yang luar biasa- pada waktu tersebut adalah minggu-minggu perayaan Pondok Daun dan pada tanggal 15 Oktober adalah puncak perayaan Pondok Daun yakni Jerusalem March. Dimana semua bangsa datang ke Israel untuk sujud menyembah Tuhan dan merayakan hari raya pondok daun (Zakharia 14:16)
HOLYLAND (I): SEBUAH IMPIAN ATAU KENYATAAN?
Setiap orang percaya (baca: Kristen) tentu memiliki kerinduan untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci (Holyland) seperti Yerusalem, Betlehem, Kapernaum atau Nazaret di negeri Israel. Saya pun tentu memiliki kerinduan seperti itu tapi tentu untuk pergi ke sana tidaklah mudah, terutama menyangkut soal biaya dan lain sebagainya.
Namun, Tuhan itu luar biasa! Bagi-Nya tiada yang mustahil. Suatu hari setelah beberapa hari sebelumnya melakukan pelayanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, ada telpon masuk dari sesorang yang dipakai dan diberkati Tuhan, bahwa saya mau tidak untuk berangkat ke Holyland. Wah… seperti mimpi saya dengan tanpa sadar mulut saya berkata: ya. Lalu saya diminta untuk bersiap-siap seperti pembuatan paspor dan lainnya.
Tanpa sadar saya menitikan air mata antara sukacita, terharu dan bersyukur pada Tuhan. Lalu saya melihat hari-hari yang sudah saya jalani terutama dalam pelayanan yang dilakukan. Ternyata Tuhan itu tidak mau berhutang. Sungguh Tuhan itu baik, bagi yang tulus melayani-Nya, Tuhan tidak akan pernah melupakan. Kesempatan ke Holyland adalah sebuah anugerah dari Tuhan.
Namun, Tuhan itu luar biasa! Bagi-Nya tiada yang mustahil. Suatu hari setelah beberapa hari sebelumnya melakukan pelayanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, ada telpon masuk dari sesorang yang dipakai dan diberkati Tuhan, bahwa saya mau tidak untuk berangkat ke Holyland. Wah… seperti mimpi saya dengan tanpa sadar mulut saya berkata: ya. Lalu saya diminta untuk bersiap-siap seperti pembuatan paspor dan lainnya.
Tanpa sadar saya menitikan air mata antara sukacita, terharu dan bersyukur pada Tuhan. Lalu saya melihat hari-hari yang sudah saya jalani terutama dalam pelayanan yang dilakukan. Ternyata Tuhan itu tidak mau berhutang. Sungguh Tuhan itu baik, bagi yang tulus melayani-Nya, Tuhan tidak akan pernah melupakan. Kesempatan ke Holyland adalah sebuah anugerah dari Tuhan.
Senin, 15 September 2008
VISITASI MAHASISWA GKP DI JOGJAKARTA
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 7-9 September 2008, saya bersama Komisi Tutorial Sinode GKP melakukan Visitasi Mahasiswa GKP (teologi & non-teologi) di Jogjakarta. Berangkat menjelang malam dan tiba keesokan harinya (subuh) sungguh tidak terasa terlebih saya berangkat dengan rekan-rekan yang mengasyikan.
Tiba di Jogja disambut mahasiswa teologi yang sudah stand by menanti Tutor mereka. Setelah relax beberapa jam di wisma Bethesda (oh ya Wisma ini lumayan bersih, nyaman dan cukup murah lho...) kami mempersiapkan diri untuk pendampingan dan pertemuan sore hari (menunggu mahasiswa selesai kuliah) dan tentu saja tak melewati jalan-jalan sebentar di kota gudeg ini. Tempat mana yang pantang untuk dilewatkan? Ya.. malioboro masih menjadi tempat favorit.
Sore hari tiba, akhirnya kami bertemu dengan mahasiswa teologi GKP (calon-calon Pdt GKP) saling melepaskan kangen, penyampaian berbagai info dan curhat dari hati ke hati tentang pergumulan-pergumulan mereka. Dilanjutkan dengan pertemuan dengan mahasiswa GKP non-teologi (Paguyuban Mahasiswa GKP se-Jogjakarta) dan diakhiri dengan makan malam bersama.
Malam hari di wisma saya merenung sejenak ... Ternyata pergumulan-pergumulan mahasiswa hampir sama dengan pergumulan saya beberapa tahun yang lalu di STT Jakarta. Terutama masalah keuangan, biaya hidup, dan sejenisnya.
Saya masih ingat "masa-masa sengsara" dulu ketika kuliah, dalam sehari pernah hanya makan satu mie rebus, ketika lapar biasanya pergi tidur untuk sekedar tidur bermimpi makan enak.. Tapi Puji Tuhan, Ia begitu baik... ada banyak cara yang diberikan Tuhan untuk mencukupi kita. Saya diberi talenta oleh Tuhan di bidang tarik suara. Ya..nyanyi adalah hobi saya. Ternyata melalui nyanyi di Paduan Suara atau Kelompok Musik di kampus dulu selain menghasilkan pengalaman dan pembelajaran juga menghasilkan uang. Memang tidak besar tapi lumayan lah untuk mahasiswa.
Biasanya Kelompok Musik saya dulu diminta gereja-gereja di Jkt untuk mengisi acara-acara gerejawi dan ucapan terima kasih yang di dapat disertai beberapa rupiah yang dibagi rata. Memang bukan uang tujuan saya dulu ikut Kelompok Musik, karena hobi lah saya bergabung. Tapi kalau dari situ Tuhan juga memberi berkat, siapa yang menolak?
Menjadi mahasiswa yang pas-pasan perlu strategi atau cara agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Terutama yang jauh dari keluarga bahkan kiriman dari keluarga yang seret. Kalau kita mau berserah pada Tuhan, maka Ia akan buka jalan. Salah satu nya adalah melalui talenta kita.
Tiba di Jogja disambut mahasiswa teologi yang sudah stand by menanti Tutor mereka. Setelah relax beberapa jam di wisma Bethesda (oh ya Wisma ini lumayan bersih, nyaman dan cukup murah lho...) kami mempersiapkan diri untuk pendampingan dan pertemuan sore hari (menunggu mahasiswa selesai kuliah) dan tentu saja tak melewati jalan-jalan sebentar di kota gudeg ini. Tempat mana yang pantang untuk dilewatkan? Ya.. malioboro masih menjadi tempat favorit.
Sore hari tiba, akhirnya kami bertemu dengan mahasiswa teologi GKP (calon-calon Pdt GKP) saling melepaskan kangen, penyampaian berbagai info dan curhat dari hati ke hati tentang pergumulan-pergumulan mereka. Dilanjutkan dengan pertemuan dengan mahasiswa GKP non-teologi (Paguyuban Mahasiswa GKP se-Jogjakarta) dan diakhiri dengan makan malam bersama.
Malam hari di wisma saya merenung sejenak ... Ternyata pergumulan-pergumulan mahasiswa hampir sama dengan pergumulan saya beberapa tahun yang lalu di STT Jakarta. Terutama masalah keuangan, biaya hidup, dan sejenisnya.
Saya masih ingat "masa-masa sengsara" dulu ketika kuliah, dalam sehari pernah hanya makan satu mie rebus, ketika lapar biasanya pergi tidur untuk sekedar tidur bermimpi makan enak.. Tapi Puji Tuhan, Ia begitu baik... ada banyak cara yang diberikan Tuhan untuk mencukupi kita. Saya diberi talenta oleh Tuhan di bidang tarik suara. Ya..nyanyi adalah hobi saya. Ternyata melalui nyanyi di Paduan Suara atau Kelompok Musik di kampus dulu selain menghasilkan pengalaman dan pembelajaran juga menghasilkan uang. Memang tidak besar tapi lumayan lah untuk mahasiswa.
Biasanya Kelompok Musik saya dulu diminta gereja-gereja di Jkt untuk mengisi acara-acara gerejawi dan ucapan terima kasih yang di dapat disertai beberapa rupiah yang dibagi rata. Memang bukan uang tujuan saya dulu ikut Kelompok Musik, karena hobi lah saya bergabung. Tapi kalau dari situ Tuhan juga memberi berkat, siapa yang menolak?
Menjadi mahasiswa yang pas-pasan perlu strategi atau cara agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Terutama yang jauh dari keluarga bahkan kiriman dari keluarga yang seret. Kalau kita mau berserah pada Tuhan, maka Ia akan buka jalan. Salah satu nya adalah melalui talenta kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
